Posts

Showing posts with the label Buku

Cerita-cerita Dalam Penungguan Masa Untuk Pulang

Image
Judul: Pulang Penulis: Leila S. Chudori Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia Tebal: viii + 461 halaman   Saya tak begitu berekspektasi saat membaca Pulang , terkecuali pada gaya bahasa Leila yang selalu membuat saya jatuh cinta—seperti yang telah saya baca sebelumnya, 9 Untuk Nadira dan Malam Terakhir . Hal tersebut karena isi cerita yang berbeda. Bila 9 Untuk Nadira dan Malam Terakhir menceritakan banyak kisah personal yang menyentuh, Pulang menyentuh dengan kisah personal yang menjadi salah satu dampak dari guncangan politik. Bisa dikatakan bahwa Pulang merupakan historical fiction . Pulang sendiri berlatarkan berbagai catatan sejarah, mulai dari Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.   Pulang menyuguhkan cerita sejarah dengan pendekatan yang cukup personal, yakni korban. Pasca 30 September 1965, tokoh utama, Dimas Suryo yang tak begitu memihak dan berideologi tak dapat kembali ke Indonesia karena dianggap dekat dengan H...

Menumbuhkan Empati dari Sudut Pandang Baru

Image
  Judul: Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman Penulis: A. Mustafa Penerbit: Shira Media Tebal: vi + 358 hala man Sebelum akhirnya membeli dan membaca buku ini, saya sudah mendapat petunjuk dari seseorang bahwa buku ini menceritakan tentang seorang pemeluk Ahmadiyah. Selain karena topik tersebut seperti novel Maryam karya Okky Madasari yang pernah saya baca dam saya senangi perspektifnya, belakangan saya memang tertarik dengan cerita-cerita dengan tokoh yang berasal dari kalangan minoritas dan marjinal karena pada akhirnya saya menemukan perspektif baru dari kehidupan seseorang yang tentu tak pernah saya alami, meski dalam konteks ini berasal dari cerita fiksi. Hal yang selalu saya ingat dari dosen saya berkaitan dengan alasan mengapa harus membaca karya sastra adalah untuk membangun rasa empati dan memanusiakan diri sendiri.   Secara umum, novel ini menceritakan kisah tentang Rara Wilis, seorang waria dan Suko Djatmoko, seorang pemeluk Ahmadiyah. Di...

"Menyalahi Zaman" dengan Narasi tentang Perempuan yang Reflektif

Image
Judul: Muslimah yang Diperdebatkan Penulis: Kalis Mardiasih Penerbit: Buku Mojok Tebal: xii + 202 halaman Belakangan saya cukup tertarik dengan isu tentang perempuan dan kesetaraan. Tahun 2019, saya mulai membaca novel bertemakan perempuan karya Nh.Dini yang kemudian memantik saya untuk belajar lebih banyak soal perempuan dan kesetaraan. Agaknya, isu yang belakangan terjadi juga menjadikan saya belajar bahwa urgensi perempuan dan kesetaraan cukup besar. Tapi, saya cukup heran dengan orang-orang yang tidak menganggap urgensi ini ada bahkan dari perempuan sendiri. Di bangku perkuliahan saya mengenalnya dengan feminisme. Di luar ruang kelas, saya lebih banyak mempelajarinya lewat esai-esai, podcast , sampai video youtube dari influencer feminis. Buku Muslimah yang Diperdebatkan menjadi buku pertama yang saya baca yang menjelaskan isu-isu perempuan dan ketimpangannya secara tersurat. Sebagai seorang perempuan muslim, tentu saya membutuhkan narasi-narasi kesetaraan yang...

Kedekatan Cerita dan Relasi pada Malam Terakhir

Image
Malam Terakhir merupakan kumpulan cerita pendek karya Leila S. Chudori yang dihimpun dari beberapa cerpen dengan latar belakang cerita yang berbeda—seperti kumpulan cerita pendek pada umumnya. Sebelumnya, saya membaca kumpulan cerita pendek lainnya berjudul 9 Untuk Nadira yang kini telah berganti judul Nadira . Pada 9 Untuk Nadira , Leila memberikan variasi baru dengan memberikan satu latar belakang yang sama dalam sembilan cerita pendek yang berbeda. Malam Terakhir menyajikan cerita-cerita yang kuat secara personal dengan gaya penceritaan imajinatif dan sureal. Pada Sehelai Pakaian Hitam misalnya, mengintepretasikan warna pakaian atas pilihan seseorang dalam bersikap dan sukarnya menjadi diri sendiri. Sedangkan pada Paris, Juni 1988 begitu menarik dengan penggambaran seseorang dengan kegairahannya saat melukis. Penggunaan diksi pada karya Leila selalu menarik dan memberikan kesan yang mendalam sehingga kekuatan kedekatan cerita begitu terasa ketika di baca. Ungkapan m...

Soe Hok-Gie di Mata Orang-orang Terdekatnya

Image
Saya mengagumi sosok Soe Hok-Gie lewat peran Nicholas Saputra dalam film Gie yang digarap oleh Miles Film, buah tangan dari Mira Lesmana dan Riri Riza. Tentu siapa pun yang telah menyaksikan penokohan Gie dalam film dicerminkan sebagai sosok mahasiswa kritis yang cukup dingin dan sinis. Film tersebut saya saksikan ketika masa SMA. Di bangku perkuliahan, dunia menayangkan gejolak politik yang ada di kampus. Persis dengan apa yang dirasakan Gie. Bedanya, angkatan Gie adalah angkatan mahasiswa yang negerinya baru saja merdeka. Gejolak politik di Indonesia saat itu tentu membuatnya sangat kritis, karena berbagai keributan begitu dekat dengannya di Jakarta hingga godaan terbesar dalam hidupnya adalah membaca buku-buku bagus. Semasa hidupnya, Gie merasakan kemerdekaan, ideologi yang tidak konsisten, pelanggaran HAM terbesar dalam sejarah Indonesia, hingga pergantian presiden untuk pertama kalinya. Gejolak tersebut 27 tahun bergelombang di sekitarnya. Membaca banyak buku membuat pik...

Sembilan Ikat Luka Nadira

Image
Judul buku ini berdialog pada tokoh sorotan di dalamnya, “Sembilan cerita ini untukmu, Nadira.” Nadira menemukan fase kelam yang panjang dalam hidupnya setelah kematian sang ibu yang begitu mendadak dan disambutnya tanpa emosional. Demikian pembuka kumpulan cerita pendek yang menyoroti kehidupan Nadira yang dikemas bak novel. Saya sempat menelan saliva ketika mengetahui bagaimana sang ibu hendak pergi—persis dengan apa yang pernah saya alami. Ini memang sangat subjektif, namun drama keluarga yang disuguhkan dalam 9 Untuk Nadira berhasil menciptakan ketakutan saya dalam menjalani peran di lingkup keluarga. Pada dasarnya Nadira merupakan bungsu dari tiga bersaudara pasangan Kemala dan Bramantyo. Kakak tertua bernama Nina dan abang yang sangat dekat dengannya bernama Arya. Mereka lahir dari orang tua yang bertemu saat mahasiswa dan menikah di Amsterdam. Orang tua dengan perbedaan cara meyakini kepercayaan. Keluarga Bramantyo Suwandi menjalani ibadah sholat dan mengaji, se...

Mencintai dan Konsekuensinya: Hujan Bulan Juni

Image
Mencintai seseorang memang tak perlu konsekuensi, kecuali ketika kedua insan tersebut ingin saling memiliki. Konsekuensi yang dihadapi dua insan tersebut juga tak lekang oleh berbagai tantangan. Dalam hal tersebut, Sarwono dan Pingkan harus berpisah karena Pingkan harus melanjutkan pendidikan ke Jepang dari beasiswa yang diterimanya. Hal dilematis yang dihadapkan Sarwono dan Pingkan tidak hanya mengenai hubungan jarak jauh yang akan mereka tempuh. Hal tersebut cukup banyak diungkapkan dalam Hujan Bulan Juni . Sarwono dan Pingkan merupakan akademisi yang bekerja di universitas yang sama. Dalam Hujan Bulan Juni , beberapa hal mengenai situasi yang dihadapi akademisi ketika melakukan penelitian atau perjalanan kerja cukup menjadi daya tarik. Tak hanya itu, Sarwono dan Pingkan yang sama sekali tidak berpacaran dan hanya “kode-kode-an” untuk menikah selalu membawa suasana cerah dalam setiap babaknya. Hujan Bulan Juni tak hanya mendeskripsikan mengenai kehidupan akademisi—ter...

Permasalahan yang Dekat dalam Memilih Jalan Sunyi

Image
Hidup dalam lingkaran yang minim permasalahan membuat saya hanya dibuai dengan permasalahan-permasalahan kota besar yang ditayangkan di televisi atau di media massa. Persoalannya tak jauh dari hal-hal makro yang turut mengancam putaran kehidupan yang pas-pasan. Tak jarang, persoalan-persoalan tersebut tak begitu relevan. Hal tersebut begitu saya rasakan sebelum menjadi mahasiswa. Ketika menjadi mahasiswa, persoalan-persoalan semakin banyak dan kian dekat serta kian relevan dengan kehidupan. Mata yang sebelumnya buta dan telinga yang sebelumnya tuli dengan kenyataan perlahan dapat melihat dan mendengar lebih jelas segala permasalahan yang ada. Sebelumnya saya tidak menyadari bahwa orang-orang di sekitar saya memiliki jalan hidup yang sulit ia pahami ketika dewasa, terutama mengenai permasalahan yang terjadi pada kehidupan di kampung dan orang tuanya. Di Kalimantan Barat, perdebatan sumber alam dan kapitalis memicu berbagai permasalahan yang berkaitan dengan ekosistem lingkung...

Keraguan Menjadi Dewasa di Tanah Lada

Image
Ketika mencapai tahap dewasa awal, rasanya ingin sekali kembali ke masa kanak-kanak. Ingin rasanya kembali merasakan masa tanpa memikirkan apa yang terjadi di sekitar, bersenang-senang tanpa peduli dengan segala kesedihan yang telah lalu. Tapi tidak semua anak-anak merasakan masa kanak-kanaknya dengan kesedihan yang remeh-temeh. Bagaimana jadinya seorang anak takut menjadi dewasa ketika melihat orang dewasa di sekitarnya? Ketakutan tersebut Ziggy ungkapkan dalam Di Tanah Lada yang merupakan novel kedua miliknya yang saya baca sepanjang tahun 2019. Novel ini merupakan novel yang cukup panjang masa membacanya, dikarenakan ketidakproduktifan saya dalam mengatur waktu membaca dan beraktivitas di luar. Novel Di Tanah Lada tidak begitu panjang. Saya cukup menyesal tidak menyelesaikannya secara langsung. Hanya sekadar cukup saja. Ada hal lain yang membuat saya tidak menyesal menunda menghabiskannya. Hal tersebut berkaitan erat dengan begitu relevannya isi novel ini, terutama pe...

Kembali Membangun Kubah

Image
Pembuka dari Kubah sejenak mengingatkan saya pada Bukan Pasarmalam -nya Pramoedya Ananta Toer. Betapa Karman dan tokoh utama dalam roman Pram tersebut merasakan kedalaman rasa melankolis yang persis. Babak belur Karman dihabisi oleh segala pencarian dan segala keputusan. Sepanjang bab kita turut menyelami bagaimana Karman berkontemplasi mengenai segala sesuatu yang telah terjadi pada dirinya hingga keputusan-keputusannya yang menyebabkannya berada di pengasingan di Pulau Buru. Membaca Kubah membuat saya sejenak kilas balik mengenai novel yang sebelumnya saya baca, yakni Jalan Bandungan karya Nh. Dini. Keduanya mengungkapkan hal yang sama, seorang suami yang terjebak dalam sebuah partai komunis. Tentu saja, Kubah menceritakan perihal yang berbeda. Kubah tidak menyorot kehidupan tokoh perempuan dalam alurnya, namun lebih menyorot pada Karman. Kita diajak menyelami kehidupan Karman. Karman kecil yang periang dan pandai berkawan. Karman remaja yang cerdas dan cekatan. Karma...

Menelisik Kekeluargaan di Jalan Bandungan

Image
Setiap orang memiliki harapan yang besar dalam kehidupan rumah tangganya. Namun, kehidupan rumah tangga yang dijalani Muryati dan Widodo tidak seperti apa yang dibayangkan orang-orang di sekitarnya, juga tidak seperti kehidupan kedua orang tuanya. Muryati dibesarkan oleh orang tua yang begitu mengedepankan kebahagiaan anggota keluarganya dengan melakukan berbagai hal, seperti menonton film bersama hingga mengunjungi tempat liburan setiap akhir pekan. Setelah menikah dengan Widodo—anak buah ayahnya pada masa revolusi—Muryati merasakan banyak hal yang salah pada kehidupan rumah tangganya. Kisah ini dimulai dengan penggambaran kondisi di akhir novel—masa ketika Muryati sudah menikah dengan adik Widodo, Handoko—sebelum melakukan kilas balik yang menceritakan kronologi mulai dari masa kecil Muryati hingga kompleksnya kehidupannya ketika dewasa dan berumah tangga. Seluruh cerita dalam novel ini berdasarkan sudut pandang Muryati. Akan berbeda atmosfer sudut pandang Muryati ketika m...