Posts

Growing Up and Self-Acceptance

Image
Saat kamu melihat sebuah potret anak kecil memegang bunga seruni kuning di taman, sejenak kamu ragu bahwa anak kecil itu berusia tiga tahun. Tubuh dan wajahnya lebih mirip penampilan anak-anak yang berlarian dengan seragam putih merah. Namun anak kecil yang tumbuh sangat disenangi orang-orang, bahkan tak sabar untuk tumbuh dewasa. Seperti harapan Sherina pada lagunya yang selalu diputar ibuku saat aku kecil, “Andai aku telah dewasa”. Hingga pada waktu aku telah menggunakan seragam putih merah itu, aku menemukan banyak cerita. Aku mulai memahami apa artinya teman, aku mengenal banyak permainan. Bahkan, aku mengenal tiga lingkungan bermain dengan dua tempat yang dapat kudatangi dengan menempuh perjalanan menggunakan sepeda. Pada satu waktu, aku memutuskan meninggalkan satu lingkungan karena sepatah kalimat, “Kenapa bermain kesini kalau kau tahu ini bukan tempatmu?” Aku hanya seorang anak yang mengenakan seragam putih merah setiap pagi. Tubuhku cepat tumbuh. Beberapa kali aku dire...

Kedekatan Cerita dan Relasi pada Malam Terakhir

Image
Malam Terakhir merupakan kumpulan cerita pendek karya Leila S. Chudori yang dihimpun dari beberapa cerpen dengan latar belakang cerita yang berbeda—seperti kumpulan cerita pendek pada umumnya. Sebelumnya, saya membaca kumpulan cerita pendek lainnya berjudul 9 Untuk Nadira yang kini telah berganti judul Nadira . Pada 9 Untuk Nadira , Leila memberikan variasi baru dengan memberikan satu latar belakang yang sama dalam sembilan cerita pendek yang berbeda. Malam Terakhir menyajikan cerita-cerita yang kuat secara personal dengan gaya penceritaan imajinatif dan sureal. Pada Sehelai Pakaian Hitam misalnya, mengintepretasikan warna pakaian atas pilihan seseorang dalam bersikap dan sukarnya menjadi diri sendiri. Sedangkan pada Paris, Juni 1988 begitu menarik dengan penggambaran seseorang dengan kegairahannya saat melukis. Penggunaan diksi pada karya Leila selalu menarik dan memberikan kesan yang mendalam sehingga kekuatan kedekatan cerita begitu terasa ketika di baca. Ungkapan m...

Soe Hok-Gie di Mata Orang-orang Terdekatnya

Image
Saya mengagumi sosok Soe Hok-Gie lewat peran Nicholas Saputra dalam film Gie yang digarap oleh Miles Film, buah tangan dari Mira Lesmana dan Riri Riza. Tentu siapa pun yang telah menyaksikan penokohan Gie dalam film dicerminkan sebagai sosok mahasiswa kritis yang cukup dingin dan sinis. Film tersebut saya saksikan ketika masa SMA. Di bangku perkuliahan, dunia menayangkan gejolak politik yang ada di kampus. Persis dengan apa yang dirasakan Gie. Bedanya, angkatan Gie adalah angkatan mahasiswa yang negerinya baru saja merdeka. Gejolak politik di Indonesia saat itu tentu membuatnya sangat kritis, karena berbagai keributan begitu dekat dengannya di Jakarta hingga godaan terbesar dalam hidupnya adalah membaca buku-buku bagus. Semasa hidupnya, Gie merasakan kemerdekaan, ideologi yang tidak konsisten, pelanggaran HAM terbesar dalam sejarah Indonesia, hingga pergantian presiden untuk pertama kalinya. Gejolak tersebut 27 tahun bergelombang di sekitarnya. Membaca banyak buku membuat pik...

Sembilan Ikat Luka Nadira

Image
Judul buku ini berdialog pada tokoh sorotan di dalamnya, “Sembilan cerita ini untukmu, Nadira.” Nadira menemukan fase kelam yang panjang dalam hidupnya setelah kematian sang ibu yang begitu mendadak dan disambutnya tanpa emosional. Demikian pembuka kumpulan cerita pendek yang menyoroti kehidupan Nadira yang dikemas bak novel. Saya sempat menelan saliva ketika mengetahui bagaimana sang ibu hendak pergi—persis dengan apa yang pernah saya alami. Ini memang sangat subjektif, namun drama keluarga yang disuguhkan dalam 9 Untuk Nadira berhasil menciptakan ketakutan saya dalam menjalani peran di lingkup keluarga. Pada dasarnya Nadira merupakan bungsu dari tiga bersaudara pasangan Kemala dan Bramantyo. Kakak tertua bernama Nina dan abang yang sangat dekat dengannya bernama Arya. Mereka lahir dari orang tua yang bertemu saat mahasiswa dan menikah di Amsterdam. Orang tua dengan perbedaan cara meyakini kepercayaan. Keluarga Bramantyo Suwandi menjalani ibadah sholat dan mengaji, se...

Sejarah, Pendidikan, dan Sawit di Desa Mungguk

Image
Pada awal tahun, hal yang membuat saya antusias memulai waktu adalah kegiatan Pengabdian pada Masyarakat dari himpunan mahasiswa program studi. Selain mengemban tugas menjadi pemandu para relawan pendidikan—yang terdiri dari mahasiswa baru—untuk beberapa hari, kepanitiaan pertama saya dalam agenda tersebut tak boleh dilewatkan hanya untuk bersenang-senang saja. Berada di tanah orang membuat saya menuntut diri saya sendiri untuk mengenali lingkungan sekitar saya. Bus yang membawa kami dari Pontianak berhenti di salah satu titik di Kecamatan Ngabang karena rendahnya tiang listrik sehingga bus tak dapat masuk hingga jalan utama menuju Desa Mungguk. Kami menumpangi truk dan pikap hingga sampai ke Desa Mungguk. Jarak dari kecamatan ke Desa Mungguk cukup jauh dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Perjalanan menuju ke dalamnya ditemani dengan jalan beraspal yang menanjak dan menukik karena dataran tinggi ditemani jurang. Kanan kiri terdapat pohon karet yang menjadi ladang uang warga ...

Mencintai dan Konsekuensinya: Hujan Bulan Juni

Image
Mencintai seseorang memang tak perlu konsekuensi, kecuali ketika kedua insan tersebut ingin saling memiliki. Konsekuensi yang dihadapi dua insan tersebut juga tak lekang oleh berbagai tantangan. Dalam hal tersebut, Sarwono dan Pingkan harus berpisah karena Pingkan harus melanjutkan pendidikan ke Jepang dari beasiswa yang diterimanya. Hal dilematis yang dihadapkan Sarwono dan Pingkan tidak hanya mengenai hubungan jarak jauh yang akan mereka tempuh. Hal tersebut cukup banyak diungkapkan dalam Hujan Bulan Juni . Sarwono dan Pingkan merupakan akademisi yang bekerja di universitas yang sama. Dalam Hujan Bulan Juni , beberapa hal mengenai situasi yang dihadapi akademisi ketika melakukan penelitian atau perjalanan kerja cukup menjadi daya tarik. Tak hanya itu, Sarwono dan Pingkan yang sama sekali tidak berpacaran dan hanya “kode-kode-an” untuk menikah selalu membawa suasana cerah dalam setiap babaknya. Hujan Bulan Juni tak hanya mendeskripsikan mengenai kehidupan akademisi—ter...

Permasalahan yang Dekat dalam Memilih Jalan Sunyi

Image
Hidup dalam lingkaran yang minim permasalahan membuat saya hanya dibuai dengan permasalahan-permasalahan kota besar yang ditayangkan di televisi atau di media massa. Persoalannya tak jauh dari hal-hal makro yang turut mengancam putaran kehidupan yang pas-pasan. Tak jarang, persoalan-persoalan tersebut tak begitu relevan. Hal tersebut begitu saya rasakan sebelum menjadi mahasiswa. Ketika menjadi mahasiswa, persoalan-persoalan semakin banyak dan kian dekat serta kian relevan dengan kehidupan. Mata yang sebelumnya buta dan telinga yang sebelumnya tuli dengan kenyataan perlahan dapat melihat dan mendengar lebih jelas segala permasalahan yang ada. Sebelumnya saya tidak menyadari bahwa orang-orang di sekitar saya memiliki jalan hidup yang sulit ia pahami ketika dewasa, terutama mengenai permasalahan yang terjadi pada kehidupan di kampung dan orang tuanya. Di Kalimantan Barat, perdebatan sumber alam dan kapitalis memicu berbagai permasalahan yang berkaitan dengan ekosistem lingkung...