Posts

Showing posts with the label Sosial

Marxisme dan Sastra

Image
sumber: brainpickings.org Secara umum, hubungan antara sastra dan Marxisme digambarkan dengan contoh penolakan sastra yang tidak didasari dengan nilai-nilai komunisme pada negara-negara berideologi komunis. Penerapan tersebut justru tidak menganggap rendah sastra, karena negara-negara tersebut menganggap bahwa sastra dan pengarang mempunyai peran yang sangat penting, terutama dalam hal strategi komunis. Sastra sangat dekat dengan manusia secara spiritual, dalam hal ini komunisme sangat mengagungkan manusia sehingga manusia tidak boleh keliru dalam membuat suatu karya sastra. Negara berideologi komunis, Rusia, dalam beberapa dekade terakhir telah melakukan perburuan terhadap pengarang, sebut saja Solzhenitsyn yang harus keluar dari negaranya hingga Boris Pasternak yang harus menolak Nobel penghargaannya karena tekanan dari pemerintah. Mengalami tekanan dari pemerintah karena perbedaan pandangan ideologi dan politik seorang pengarang dengan negaranya tak hanya terjadi di ...

Growing Up and Self-Acceptance

Image
Saat kamu melihat sebuah potret anak kecil memegang bunga seruni kuning di taman, sejenak kamu ragu bahwa anak kecil itu berusia tiga tahun. Tubuh dan wajahnya lebih mirip penampilan anak-anak yang berlarian dengan seragam putih merah. Namun anak kecil yang tumbuh sangat disenangi orang-orang, bahkan tak sabar untuk tumbuh dewasa. Seperti harapan Sherina pada lagunya yang selalu diputar ibuku saat aku kecil, “Andai aku telah dewasa”. Hingga pada waktu aku telah menggunakan seragam putih merah itu, aku menemukan banyak cerita. Aku mulai memahami apa artinya teman, aku mengenal banyak permainan. Bahkan, aku mengenal tiga lingkungan bermain dengan dua tempat yang dapat kudatangi dengan menempuh perjalanan menggunakan sepeda. Pada satu waktu, aku memutuskan meninggalkan satu lingkungan karena sepatah kalimat, “Kenapa bermain kesini kalau kau tahu ini bukan tempatmu?” Aku hanya seorang anak yang mengenakan seragam putih merah setiap pagi. Tubuhku cepat tumbuh. Beberapa kali aku dire...

Sejarah, Pendidikan, dan Sawit di Desa Mungguk

Image
Pada awal tahun, hal yang membuat saya antusias memulai waktu adalah kegiatan Pengabdian pada Masyarakat dari himpunan mahasiswa program studi. Selain mengemban tugas menjadi pemandu para relawan pendidikan—yang terdiri dari mahasiswa baru—untuk beberapa hari, kepanitiaan pertama saya dalam agenda tersebut tak boleh dilewatkan hanya untuk bersenang-senang saja. Berada di tanah orang membuat saya menuntut diri saya sendiri untuk mengenali lingkungan sekitar saya. Bus yang membawa kami dari Pontianak berhenti di salah satu titik di Kecamatan Ngabang karena rendahnya tiang listrik sehingga bus tak dapat masuk hingga jalan utama menuju Desa Mungguk. Kami menumpangi truk dan pikap hingga sampai ke Desa Mungguk. Jarak dari kecamatan ke Desa Mungguk cukup jauh dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Perjalanan menuju ke dalamnya ditemani dengan jalan beraspal yang menanjak dan menukik karena dataran tinggi ditemani jurang. Kanan kiri terdapat pohon karet yang menjadi ladang uang warga ...

Surat 1: Membandingkan

Image
“Membandingkan kesukaran dan kesenangan orang lain dengan diri sendiri tak akan ada habisnya.” Begitu kiranya sebuah kalimat yang muncul begitu saja dari alter dalam diri saya. Saya kira saya hanya mencoba untuk menulis untuk mengingatkan orang lain. Saya menyadari alam bawah sadar saya tengah menegur apa yang terjadi dalam diri saya beberapa waktu belakangan ini. Terlalu dini jika saat ini saya tengah mengalami quarter life crisis , karena saya belum menginjak usia seperempat abad. Kiranya krisis yang tengah saya alami adalah krisis sebelum menginjak kepala dua. Tahun 2019 menyisakan banyak warna yang begitu abstrak bagi hidup saya. Banyak keputusan yang saya ambil dan saya perbuat di luar zona nyaman dan zona aman saya. Semua itu berpengaruh pada diri saya—mental saya. Tidak, saya tidak self-diagnosis kesehatan mental apa yang sedang saya alami. Hanya saja, beberapa waktu belakangan emosi saya mudah sekali terombang-ambing dalam sebuah masalah. Di tengah kesibukan sebag...

Kronologi dalam Berbagi Perspektif RUU-PKS dan Dialog Klarifikasi BEM Untan (Universitas Tanjungpura)

Image
Babak 1 Sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura 20.00 WIB, 26 September 2019 Hasil dari audiensi aksi yang dilakukan seluruh mahasiswa di Kalimantan Barat, khususnya di Pontianak mengundang kontroversi dari banyak pihak. Pasalnya, pada poin keempat pada Nota Kesepakatan berisi penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual atau yang lebih dikenal dengan RUU P-KS. Beberapa mahasiswa yang mengikuti aksi pada saat itu mengatakan bahwa memang persoalan RUU P-KS ini memang pecah di antara mahasiswa dan diyakini tidak sesuai dengan urgensi #MosiTidakPercaya yang digaungkan pada beberapa aksi di berbagai daerah di Indonesia. Mahasiswa di Pontianak, khususnya Universitas Tanjungpura merasa bahwa BEM Universitas Tanjungpura tidak menunjukkan wajah dan suara mahasiswa yang berada di bawah naungannya. Oleh karena itu, LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Universitas Tanjungpura menginisiasi untuk mengadakan Mimbar Terbuka: Berbagi Perspektif T...

Media Tanpa Misoginis

Image
Dari akhir 2018 hingga saat ini, saya cukup mengikuti perkembangan isu mengenai perempuan dan saya akhirnya berdamai dengan beberapa hal yang tidak saya setujui sebelumnya. Satu diantara alasan saya berdamai adalah saya menyadari bahwa saya sebagai manusia perlu menghargai manusia lainnya. Untuk memahami berbagai isu kesetaraan—terutama tentang perempuan—sering kali saya dapatkan lewat diskusi di podcast dan youtube . Untuk literatur mengenai hal tersebut, saya baru membaca dari kacamata teori sastra dan novel-novel yang berkaitan dengannya—karena kebetulan saya berkuliah di program studi yang mempelajari hal tersebut. Momen nonton bersama film dokumenter yang bertajuk More Than Work karya Luviana, seorang pekerja media, menjadi satu diantara jalan saya untuk lebih memahami isu kesetaraan di dunia nyata. Karena dalam sesi nonton bersama ini, kami akan berdiskusi dengan Dian Lestari—Koordinator SEJUK Kalbar—dan Tuti Suprihatin—dari LBH APIK Kalbar—setelah menyaksikan film t...