Posts

Quo Vadis Calon Pengajar Bahasa Indonesia?

Image
“Kamu masuk prodi ini karena apa?” Tanya seorang dosen kepada mahasiswa suatu hari. Sebagian besar dari mereka tampak malu-malu karena program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bukanlah pilihan utama mereka. Ketika satu diantara mereka memilih program studi ini sebagai pilihan utama, alasannya pun karena pada saat duduk di bangku sekolah formal, Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang paling mudah. Mahasiswa yang memilih program studi ini dengan pemikiran yang idealis akhirnya canggung untuk mengungkapkan alasannya. Mahasiswa idealis tersebut cukup tergelitik dengan ungkapan kawan-kawannya, tentu saja. Ia mulai berpikir, apakah kawan-kawannya sampai lulus nanti akan berpikir hal yang sama atau tidak. Jika pemikiran kawan-kawannya terus seperti demikian, tentu kelak setelah lulus dari sarjana orientasinya hanya bekerja dan mengajar agar berpenghasilan saja. Mereka yang menjadi guru tidak akan pernah mengkritisi bagaimana kurikulum Bahasa Indonesia di sekolah for...

Bedah Buku Kamis

Image
Kamis kemarin hari saya berjalan dengan begitu produktif. Setelah kuliah pada pagi harinya, siangnya jemari saya terdistraksi dengan ponsel. Distraksi tersebut membawa saya kepada poster dua acara bedah buku yang diadakan pada Kamis sore dan Kamis malam. Pembedah buku di sore hari kebetulan seseorang yang saya kagumi dan kami sempat bertemu dalam sebuah pelatihan enam tahun silam. Ia menyebut dirinya Yeni Mada. Pembawa berita mengenai bedah buku sendiri merupakan sosok idola juga, terutama di kalangan mahasiswa karena prestasinya dan tulisannya yang apik. Beliau bernama Indra Dwi Prasetyo. Tentunya berita ini harus saya teruskan kepada satu kawan saya yang selalu tertarik dalam diskusi seperti ini. Kuperkenalkan Mar’atushsholihah. Kamis sore itu diisi dengan mendengarkan Kak Yeni membedah buku “Untuk Republik; Kisah-kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa” karya Faisal Basri dan Haris Munandar. Pemantiknya tidak hanya dari Kak Yeni, namun juga Bung Edwin. Kami disuguhkan buah...

Ketakutan dalam Dunia Baru

Image
Judul: Kerumunan Terakhir Penulis: Okky Madasari Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Jumlah Halaman: 357 Kerumunan Terakhir adalah buku keempat karya Okky Madasari yang saya baca. Yang menjadi hal favorit saya setelah membaca karya-karya Okky adalah karena beliau menjawab beberapa pertanyaan soal apa saja kekacauan yang terjadi di negeri ini yang dengan apik beliau ungkapkan dalam karyanya. Kali ini, saya disuguhkan dengan karya yang berkaitan dengan dunia yang sempat membuat saya tenggelam dalam keseharian dan jauh dari kehidupan sosial, yaitu dunia maya. Novel ini menceritakan dunia baru yang Jaya buat dari berbagai sabdanya. Jaya hidup dalam generasi yang mulanya lebih mengenal teknologi komunikasi yang ala kadarnya hingga menjadi teknologi yang menciptakan dunia baru. Dunia maya, begitu kebanyakan orang menyebutnya. Namun, cerita dalam novel ini bukan sekadar bagaimana dunia baru berperan besar dalam kehidupan, ada pula kisah kehidupan pribadi Jaya yang membuat...

Ada yang Lebih Tabah dari Kesetaraan

Image
Judul: Keberangkatan Penulis: NH. Dini Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Jumlah Halaman: 229 Novel ini pertama kali terbit pada 1977. Seorang NH. Dini menggambarkan bahwa bangsa berkulit putih perlahan pergi diusir dan kembali ke negara asalnya, Belanda. Termasuk mereka yang peranakan atau dikenal dengan sebutan "orang Indo". Sebutan tersebut memiliki konotasi yang berbeda dengan sebutan "orang Indonesia" apalagi "pribumi". Namun hal demikian lebih dirasa di kota-kota besar di Jawa. Meskipun secara dokumen mereka sudah menjadi Warga Negara Indonesia, hal tersebut tidak dapat dihindari. Mereka yang memilih tinggal dan memiliki pergaulan baik di sekitarnya, terkadang diasumsikan sebagai seseorang yang bebas seperti bangsa aslinya, meskipun mereka merupakan peranakan. Masalah peranakan ini kian mengakar ketika "Aku", Elisa tengah dirundung kebimbangan soal pergaulan antara dirinya dan para lelaki di sekitarnya. Elisa sangat menol...

Sesuatu Serupa Warna yang Luntur dari Dalam Seorang Manusia

Image
Judul: Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya Penulis: Haruki Murakami Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia Jumlah Halaman: 345 Asia menempati peringkat teratas dengan ragam bahasa paling rumit. Jepang satu di antara negeri yang memiliki struktur bahasa yang cukup rumit dan berada di Asia. Hurufnya saja ada empat jenis, diantaranya kanji, romaji, katakana, dan hiragana. Beberapa kata yang sama akan bermakna berbeda apabila ditulis dengan huruf yang berbeda. Namun karena perbedaan tersebut, justru memudahkan penduduk Jepang memberi nama anak-anaknya agar kaya akan makna. Dalam linguistik Jepang, nama Tsukuru Tazaki tidak melekat warna sedikitpun. Ia dipanggil "Tsukuru" di antara kelompok pertemanan yang harmonis-teratur. Berbeda dengan teman-temannya yang berwarna dengan panggilan warna pula, Ao untuk panggilan Yoshio Oumi, Aka untuk panggilan Kei Akamatsu, Shiro untuk panggilan Yuzuki Shirane, dan Kuro untuk panggilan Eri Kurono. Tanpa alasan...

Pemuda Beraksi dalam Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Image
Dalam era milenium dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat, masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dari berbagai macam sumber mengenai kondisi negara Indonesia saat ini. Namun, rendahnya literasi masyarakat justru menyebabkan masalah karena masyarakat hanya mengetahui apa yang ada di permukaan saja. Sebagai warga negara yang baik, kita perlu lebih kritis dalam mengakses informasi, terutama kondisi negara kita dan apa saja yang hendak dicapai oleh negara kita, Indonesia. Sebelum mengetahui dimana masalah yang kerap terjadi di Indonesia, kita perlu mengetahui tujuan apa saja yang mendasari pembangunan negara. Pada tahun 2000 hingga 2015, negara-negara dunia yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki “pekerjaan rumah” yang beristilah Millenium Development Goals . Selama 15 tahun, sudah banyak kemajuan yang terjadi dalam beberapa tujuan, namun masih ada tujuan lainnya yang tertinggal jauh terutama di bidang kesehatan dan angka kemiskin...

Refleksi Pertemuan dan Bara

Image
Bersama anak-anak Panti Asuhan Amal Jariah Cerita ini hanya didokumentasikan lewat foto kami bersama anak-anak Panti Asuhan Amal Jariah. Sangat disayangkan aku bukan satu diantara mereka yang senang mendokumentasikan setiap kegiatan mereka. Aku cukup memperhatikan beberapa hal yang ada di sekitar panti asuhan tersebut. Mulai dari perjalanan menuju ke sana, lingkungan di sekitar tempat tersebut, hingga air muka anak-anak melihat kedatangan kami. Tanah kuning menemani perjalanan kami menuju kesana. Kala musim panas saat itu, perjalanan kami diselimuti debu yang memerihkan mata sekaligus panas matahari yang membakar kulit. Aku tak terbayang ketika saat itu musim hujan, mungkin aku tak berani mengendarai motor karena becek dan khawatir kecelakaan. Panti asuhan yang terletak jauh dari wilayah penduduk itu berada di antara lahan hutan yang sebagian baru saja dibakar di sekitarnya. Bahkan aku menemukan beberapa batang pohon yang masih ada sedikit baranya meskipun sudah menjadi ...