Kamu
Saat itu, aku mendengar suara gemuruh dari luar.
Apakah kamu mendengarnya? Aku tahu pasti jawabanmu. Kamu hanya menghiraukannya.
Tak peduli apapun yang terjadi di luar sana. Seperti yang pernah kamu ceritakan
kepadaku. Ingatkah kamu tentang hal itu?
Kita bertemu ketika aku kehilangan arah. Ketika aku
singgah di sebuah rumah kecil beratapkan kulit kayu dan berdindingkan bambu
serta berlantai tanah. Aku duduk disana, di atas kursi di depan rumahmu.
Berharap temanku mendapatiku tengah tersesat. Namun, hanya kamu yang datang.
Kamu hanya melihatku sejenak. Kamu tampak tak
peduli. Kamu hanya datang untuk melihat dan masuk ke rumahmu tanpa
mempersilahkanku masuk. Mungkin karena aku yang tak sopan. Aku mengetuk pintumu.
Berharap kamu mau menjadikanku seorang tamu. Namun kau tak merespon. Aku buka
begitu saja pintu rumahmu dan saat itulah, untuk pertama kalinya aku membuatmu
marah.
Aku hanya terdiam malu mendengar kemarahanmu. Dan
diamnya aku, membuatmu diam pula. Kamu mulai bertanya kepadaku, dalam maksud
apa aku datang ke rumahnya. Aku tersesat, begitulah jawabanmu. Namun, kamu tak
menawarkan kepadaku untuk mencari temanku. Kamu terlihat kesepian saat itu.
Mungkin, kamu memang terbiasa dengan kesepian. Mungkin, kamu ingin menjadikanku
seorang teman. Bahkan seorang sahabat, mungkin. Itulah yang kupikirkan.

Kamu mendekatkan dirimu selangkah di depanku. Kamu
membelai rambutku yang dikuncir kuda. Kemudian kamu memalingkan tubuhmu. Pergi.
Lalu kembali membawa sepotong kain biru. Senada dengan warna kaos yang
kukenakan. Kamu menutupi rambutku dengan kain tersebut. Aku diam tak menolak.
Aku mulai mengerti maksudmu. Kamu kembali menampilkan senyummu yang begitu
menyejukkan saat kain itu menutupi kepalaku dengan sempurna.
Nida, jangan pernah melepaskan kain ini, kecuali
dengan mahrammu.”
Kalimat sederhana yang keluar dari bibirmu membuat
perubahan besar bagiku setelahnya. Namun, satu hal yang membuatku berpikir.
Mengapa dirimu tinggal sendirian?
Kamu
mengungkapkannya. Aku benci dunia luar. Begitulah katamu.
Aku tak
mengerti mengapa kamu membenci dunia luar. Bukankah segalanya datang dari sana?
Bukan. Bukan karena itu.
***
“Ummi... Abi...!” teriak gadis itu. Ia berusaha
lari. Namun Bibi Surti enggan melepaskannya. Ia memeluk erat Maryam.
“Jangan, Maryam. Jangan masuk kesana. Berbahaya!”
“Biarin, Bi. Biarin Maryam terpanggang. Asal Ummi
dan Abi Maryam selamat dari kebakaran. Maryam mohon, Bi. Lepaskan pelukannya,”
gadis itu meronta. Namun perkataannya tak dituruti. Tak ingin Bibi Surti
turuti. Ia khawatir dengan Maryam.
***
“Eh, Maryam tuh!”
“Mana?”
“Bentar lagi dia bakal lewat sini.”
“Eh... eh... entar lagi dia lewat!”
Maryam lewat di hadapan mereka. Dan... CUIH. Salah
satu dari enam remaja putri itu meludahi Maryam. Seorang lagi menarik kerudung
yang dikenakan Maryam. Gadis yang bernama Mita itu menarik Maryam lebih dekat.
“Kamu tahu ‘kan kesalahanmu?”
Maryam hanya mengangguk pelan. Tenggorokannya
tercekat, menghalangi kata yang hendak keluar dari bibirnya.
“Bagus. Awas kalau kamu ketahuan deket lagi sama
Ahmad.”
Maryam tak merespon. Lalu Mita mendorongnya hingga
jatuh ke tanah. Mereka pergi dengan tawa yang menggelikan. Maryam mencoba
bangkit. Ketika ia berdiri dan memalingkan tubuhnya, Ahmad telah berdiri tepat
di depannya. Ia terkejut. Ahmad menawarkan sapu tangan miliknya. Maryam
menolak. Ia pergi sejauh mungkin.
***
Maryam terus memperhatikan pintu yang terbuka. Ia
terus mencoba melepaskan tambang yang mengikat kedua lengannya. Perlahan.
Hingga akhirnya lepas dengan mudah. Ikatannya tak begitu kencang. Ia melepaskan
tambang yang mengikat kakinya dan kursi yang ia duduki. Ia melepas sepatunya
dan menyimpannya ke dalam ransel yang diletakkan di belakang kursi isolasinya.
Ia keluar dari rumah yang selama beberapa hari
mengurungnya. Ia lari dari segala perbuatan gila sang penculik. Ia sudah muak
berhadapan dengan pria bengis itu. Tiada hari tanpa sayatan darinya. Ia selalu
tersenyum menyeringai dan tertawa tiap kali mendengar suara kesakitan Maryam
yang disamarkan oleh sapu tangan yang menutupi mulutnya. Seolah menyayat
seseorang menjadi alkohol baginya
***
Kini, kamu tak termenung menatap pelita di depanmu.
Kamu menulis sesuatu disana. Kamu terlihat kacau ketika menulis saat itu.
Hingga akhirnya kamu terlihat lebih tenang ketika melihat mushaf Al-Qur’an yang
tergeletak di seberang meja tempatmu kini.
Kamu membukanya. Membaca surah Maryam. Kulihat, kamu
menitikkan air mata dari mata mungilmu. Suaramu bergetar haru. Terlihat jika
kamu merasakan Ar-Rahman berada di dekatmu.
Namun, kamu tak sadar. Sepasang mata tengah
mengintaimu. Menyeringai melihatmu. Alunan merdu suaramu tak dihiraukannya. Ia
ayunkan pisau di tangan kanannya. Ia tak dapat menahan nafsu untuk menghujam
pisau itu ke tubuhmu.
Maryam, jika aku tak pergi secepat ini, mungkin aku
akan melindungimu.
Pontianak, 4 Juli 2015
10.53 WIB
Pontianak, 4 Juli 2015
10.53 WIB
Comments
Post a Comment