"), auto;}

Selasa, 10 April 2012

Pisau Cukur untuk Sang Raja

            Diceritakan oleh Muhammad Muhammadi, dahulu kala, hiduplah seorang tukang cukur termasyhur yang biasa merapikan dan menyukur rambut dan jenggot Raja. Suatu hari, ia pergi ke pasar. Di situ, ia melihat seorang lelaki tua sedang duduk di sebuah kedai sederhana. Di hadapannya, terdapat pena dan kertas. Namun tak ada sesuatu pun di kedai itu. Ia merasa heran dan bertanya-tanya, apa yang di jual lelaki bersurban itu.
            Ia pun menghampirinya dan bertanya, “Wahai, tuan! Apa yang anda jual?”. Lelaki tua itu menjawab, “Aku orang bijak yang menjual nasihat.”. “Nasihat apa?”tanya tukang cukur itu. Orang bijak ini menjawab, “Nasihatku tidak gratis. Harganya seratus dirham.”. Setelah terjadi tawar menawar, akhirnya tukang cukur itu setuju membayarnya seratus dirham. Lelaki tua itu menulis nasihat di atas selembar kertas.
            Nasihat yang diberikan oleh orang itu kepada tukang cukur adalah seperti ini, “Orang yang cerdik adalah orang yang tidak melakukan suatu perbuatan sampai dirinya tahu apa akibat dari perbuatannya itu.”. Si tukang cukur itu segera menyimpan nasihat yang dibelinya dengan harga mahal itu. Bahkan ia senantiasa menuliskan nasihat itu di berbagai benda. Termasuk di atas batu yang biasa digunakannya untuk mengasah pisau cukurnya.
            Suatu hari, Perdana menteri datang menemui tukang cukur dan berkata, “Saya baru datang dari luar negeri dan membawa hadiah untukmu, sebuah pisau cukur terbuat dari emas. Karena kamu terbiasa mencukur dan merapikan janggut Raja. Sebaiknya setelah ini kamu gunakan pisau cukur ini untuk mencukur janggut Raja.”. Asal diketahui, pisau cukur emas itu, secara diam-diam telah dilumuri racun oleh Perdana Menteri. Ia menginginkan Raja mati dengan pisau cukur itu.
            Tentu saja tukang cukur merasa gembira mendapatkan hadiah berharga itu. Tatkala hendak mencukur janggut Raja, ia pun mengeluarkan pisau cukur emas itu. Saat itu matanya menatap nasihat yang ia tulis di batu asahan. Ia merenung, “Saya belum pernah mengamalkan nasihat ini. Sebaiknya sekarang saya mengamalkannya, karena saya masih belum tahu akibat dari menggunakan pisau cukur ini. Saya tak akan menggunakannya untuk mencukur janggut Raja.”.
            Melihat tukang cukurnya terdiam merenung, Raja bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?”. Tukang cukur ini menjelaskan tentang pisau cukur pemberian perdana menteri itu dan nasihat orang bijak yang telah dibelinya. Mendengar cerita tukang cukur itu, Raja menyadari ada maksud tak baik dari Perdana Menterinya. Ia tahu Perdana Menterinya hendak membunuhnya melalui pisau cukur itu. Ia segera mengumpulkan para pembesarnya dan sekaligus mengundang Perdana Menteri untuk hadir di sana.
            Ia memerintahkan tukang cukur untuk mencukur dan merapikan cambang serta jenggot orang-orang yang berniat jahat. Perdana Menteri benar-benar dibuat panik, sementara tukang cukur dengan cermat menjalankan perintah itu. Tak lama, semua meninggal dunia termasuk Perdana Menteri itu. Tukan cukur telah menyelamatkan jiwa sang Raja. Ia mendapat hadiah besar. Ia tahu harga nasihat orang bijak itu lebih dari seratus dirham. Sekarang nyata telah berlipat tak terhingga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar